Just an Ordinary Blogger...

Showing posts with label Tips;Islami. Show all posts
Showing posts with label Tips;Islami. Show all posts

06 June 2013

Manajemen Cemburu

cemburu
Manajemen Cemburu | Cemburu, kenapa saya  posting masalah ini? Ya karena semua orang pasti pernah memiliki perasaan cemburu bukan? Ada yang mengatakan bahwa cemburu adalah bumbunya cinta. Bagaikan masakan tanpa garam akan hambar rasanya. Begitu juga mungkin cinta tanpa cemburu akan datar-datar saja hubungan. Cemburu itu kan tanda adanya cinta, jadi bisa dikatakan jika seseorang tidak pernah cemburu justru bisa jadi ada masalah dalam psikologsinya.

Cemburu itu boleh-boleh saja dalam saling berhubungan, terutama buat yang sudah punya pasangan hidup, haruslah ada perasaan ini. Tapi kita jangan menyalah artikan pengertian cemburu ini, karena ada juga cemburu yang membabi-buta alias cemburu buta. Cemburu seperti ini bukan pada tempatnya. Maka yang timbul justru adalah keretakan hubungan dan lebih khusus lagi hubungan rumah tangga. dan cemburu itu perlu juga di menej loh agar tidak timbul hal yang negatif dalam hubungan. Nah pada postingan kali ini saya sedikit berbagi bagaimana kita memenej rasa cemburu itu. Buat yang belum berumah tangga silakan menyimak saja hehe….

Cemburu Yang Diperbolehkan

Diatas sudah saya singgung bahwa cemburu itu boleh. Sebuah riwayat dari ‘Amar bin Yasir menegaskan pentingnya keberadaan rasa cemburu dari seorang istri. Namun demikian, kecemburuan yang diperbolehkan tidak berlaku mutlak. Artinya, cemburu itu harus bersifat seimbang dan sewajarnya. Tidak boleh berlebihan. Kecemburuan bisa menjadi sesuatu yang positif jika tidak melampaui batas dan tidak dibarengi dengan prasangka buruk yang berlebihan. Ali bin Abu Thalib pernah mengatakan, “Janganlah kalian keseringan cemburu terhadap pasanganmu karena justru keburukan akan mendatangimu.” Hal senada juga diungkapkan oleh Ibnu Arabi. “Sungguh, kami adalah para pencemburu Allah. Dan berhati-hatilah kamu semua terhadap kecemburuan hewani, jangan sampai dia menghasut dan menjebakmu,” katanya.

Dan begitu juga dengan sebaliknya, hak istri atas suami ialah dicemburui oleh suaminya. Sang suami hendaknya tidak bersikap masa bodoh atau cuek terhadap segala tingkah laku istrinya, tidak berburuk sangka kepadanya secara berlebihan, dan tidak selalu mencari kesalahan istrinya. Seorang suami yang tidak pernah cemburu terhadap istrinya maka diancam oleh Allah tidak akan masuk surga. Nabi bersabda: “Tiga golongan yang tidak akan masuk syurga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya,wanita yang menyerupai pria dan dayuts.” (HR. Nasa’i, Hakim, Baihaqi dan Ahmad).  Dayuts adalah suami/kepala keluarga yang tidak cemburu terhadap istrinya.

Sebab Cemburu

Sebab-sebab dari rasa cemburu ini sebenarnya banyak, namun bisa di simpulkan beberapa diantaranya adalah :
1. Perasaan Takut Kehilangan
Kecemburuan biasanya didominasi oleh rasa takut. Sadar atau tidak, ini pasti pernah dialami oleh siapa saja. Merasa takut kehilangan pasangan adalah hal yang wajar. Takut berpindah ke lain hati atau takut tidak diperhatikan lagi oleh pasangan kita. Rasa takut inilah yang akhirnya menimbulkan rasa cemburu.

2. Kurangnya Kepercayaan
Kepercaan itu mutlak diperlukan dalam sebuah hubungan. Harmonisasi tidak akan timbul jika tidak ada kepercayaan ini. Orang tidak percaya terhadap pasangannya sudah dipastikan akan timbul kecemburuan dalam hatinya. Kemanapun pasangannya pergi, perasaan curiga akan terus ada dalam hatinya. Jangan-jangan ia berbuat selingkuh, dan jangan-jangan yang lainnya. Kurangnya komunikasi mungkin menjadi penyebab utama yang mencegah pembentukan kepercayaan.

3. Tidak Percaya Diri Terhadap Pasangan
Ini yang nggak kalah gawat, tidak percaya diri. Rasa rendah dan banyak kekuarangan kadang menjadi penyebab timbulnya rasa cemburu. Jangan-jangan pasangan kita menemukan orang yang lebih baik. Dan sudah pasti akan timbul takut kehilangan.  Kuncinya adalah setiap pasangan sebaiknaya menyadari kekurangan masing-masing.  Bagaimana satu sama lainnya menutupi kekurangan itu sehingga timbul harmonisasi.

Tips Mengatasi Cemburu

Banyak cara seseorang menangkal rasa cemburu ini. Karena di sadari atau tidak ternyata cemburu yang berlebihan atau cemburu buta itu justru berakibat buruk terhadap hubungan sesorang. Diantara cara mengatasi cemburuan buta mungkin bisa dilakukan dengan hal-hal sebagai berikut:

Bertakwa kepada Allah swt, tenangkan hati dengan zikrulloh, bersihkan jiwa dari cemburu buta, jauhi perilaku menyakiti hati pasangan, mengumpulkan pahala yang besar dalam bersabar mengendalikan cemburu, Menjauhi pergaulan yang buruk, berprasangka baik (positif thinking).

Jangan hanya melihat keburukan pasangan, tapi hitunglah semua kebaikannya, bersikap qana’ah (menerima segala ketentuan Allah swt dengan lapang dada), selalu mengingat kematian dan hari akhirat, berdoa mohon pertolongan Allah swt agar diberikan rasa cemburu yang wajar, sibukkan diri dengan amal sholeh, bangun kepercayaan dan keterbukaan terhadap pasangan dan saling memberikan pujian pada pasangan.

Semoga bermanfaat dan happy blogging….

Read More

22 March 2013

Ilmu Buat Sang Pencari Ilmu

ilmu
Ilmu Buat Sang Pencari Ilmu | Mencari ilmu atau belajar itu adalah merupakan sebuah kewajiban bagi kita selama hayat masih di kandung badan, karena prinsip mencari ilmu adalah long live education yang artinya pendidikan sepanjang masa. Sebagai orang yang terjun dalam dunia pendidikan, saya merasakan bahwa semakin banyak memberikan ilmu, maka akan semakin merasa terasah kemampuan.

Ilmu tidak akan habis jika diamalkan,tapi justru akan sebaliknya. Ilmu itu lebih mulia kedudukannya daripada harta. Coba kita simak bagaimana ungkapan Ali bin Abi Thalib mengenai harta dan ilmu ini.

Dikisahkan ada sepuluh orang Khawarij datang mengunjungi tempat  Ali bin Abi Thalib. Mereka bermaksud menguji sejauh mana kedalaman ilmu yang di kuasai oleh Ali bin Abi Thalib. Mereka penasaran karena Rasulullah saw dalam sabdanya pernah menggambarkan bahwa bila beliau adalah kota ilmu, maka Ali adalah pintunya.

"Hai Ali, manakah yang lebih mulia, ilmu atau harta benda, dan terangkan sebab-sebabnya?" ujar salah seorang dari mereka. Diantara 10 jawaban Sayyidina Ali adalah,

"Pengetahuan dan ilmu adalah warisan para nabi. Sedangkan harta kekayaan adalah warisan Fir'aun, Qorun, Syadad, dan sejenisnya. Maka ilmu lebih mulia daripada harta." Lalu Ali menguraikan penjelasannya :

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu bisa memelihara empunya. Sedangkan harta, empunya yang harus menjaga.

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena orang yang berilmu banyak sahabatnya. Sedangkan orang yang banyak hartanya kebih banyak musuhnya.

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu hanya diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang dicintaiNya. Sedangkan harta diberikan oleh Allah kepada orang, baik yang dicintai maupun yang tidak dicintaiNya.

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu bila disebarkan akan bertambah. Sedangkan harta jika disebarkan atau dibagikan akan berkurang.

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu tidak dapat dicuri. Sedangkan harta dapat dicuri dan dapat hilang.

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu tidak dapat binasa dan tidak dapat habis selamanya. Sedangkan harta benda bisa habis dan bisa lenyap karena masa atau usia.

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena ilmu memberi sinar kebaikan, menjernihkan pikiran dan hati serta menenangkan jiwa. Sedangkan harta benda pada umumnya menggelapkan jiwa dan hati.

Ilmu lebih mulia daripada harta benda, karena orang yang berilmu lebih terdorong untuk mencintai Allah, merendahkan diri, dan bersifat perikemanusiaan. Sedangkan harta benda membangkitkan orang pada sifat-sifat sombong, congkak, takabur, dan angkuh.

Berkaitan dengan menuntut ilmu, saya teringat semasa di bangku sekolah dulu. Seorang ustadz menyampaikan pengajian kitab Ta’limul Muta’allim (تعليم المتعلم) membahas tentang syarat menuntut ilmu bagi seorang murid. Ada sebuah syair bagus yang sampai saat ini masih teringat dalam pikiran saya :
الا لا تنال العلم الا بستة سأنبيك عن مجموعها ببيان
ذكاء وحرص واصطباروبلغة وارشاد استاذ وطول زمان
“Ingatlah, engkau tidak akan memperoleh ilmu yang bermanfaat kecuali dengan 6 syarat yaitu : cerdas, semangat, sabar, biaya, memuliakan ustadz, dan waktu yang lama”.

1. Cerdas
Dalam mencari ilmu sesorang haruslah berpikir kritis  alias cerdas. Kecerdasan sangatlah dibutuhkan agar ilmu dapat diterima dengan baik dan optimal. Namun bukan berarti orang yang cerdas tidak wajib menuntut ilmu. Kecerdasan seseorang bisa diasah jika ia punya kemauan dan ketekunan.

2. Semangat
Seorang murid seyogyanya bersungguh-sungguh, optimis, memiliki semangat dalam belajar. Karena rasa optimisme inilah ada suatu keinginan yang kuat dalam dirinya untuk mencapai ilmu yang ia inginkan.

3. Sabar
Butuh kesabaran bagi seseorang yang menuntut ilmu. Ilmu tidak dapat diperoleh secara langsung ke otak, semua tergantung otak dalam menyerap ilmu yang dipelajarinya. Menuntut ilmu tidak bisa sebulan dua bulan, tapi perlu waktu yang lama untuk mendapatkannya.

4. Biaya
Finansial merupakan faktor dasar dalam pendidikan saat ini. Untuk memasuki sekolahan, pesantren, kampus maupun yang lainnya sangatlah membutuhkan biaya yang bahkan tidak kecil nominalnya. Tidak dipungkiri lagi, biaya pendidikan saat ini cukuplah mahal sehingga menuntut  ilmu itu perlu biaya yang tidak sedikit pula.

5. Memuliakan Ustadz atau Guru
Ta’dzim atau menghormati ustadz  atau kepada guru sangatlah penting karena melalui perantara beliaulah seorang murid bisa memperoleh ilmu. Berkah dan ridho seorang guru percaya atau tidak, itu juga mempengaruhi kemanfaatan ilmu bagi sang pencarinya. Berbuat baiklah kepada guru-guru kita.

6. Waktu yang Lama
Memang membutuhkan waktu yang lama bahkan tidak ada batas dalam mencari ilmu. Bahkan sering kita dengar kata-kata mutiara “Tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat” yang mengisyaratkan bahwa menuntut ilmu itu selamanya. Selama kita hidup ilmu masih akan kita perlukan.

Semoga bermanfaat dan wilujeung ngeblog…..


Read More

03 March 2012

Mengapa Kita Dilarang Makan dan Minum Sambil Berdiri?


Sebelum kita mengetahui apa hikmah dibalik hadits ayang melarang kita untuk makan dan minum sambil berdiri, ada baiknya kita simak dulu hadits Rasulullah SAW :
Dari Anas r.a. dari Nabi saw.bersabda: “Bahwa ia melarang seseorang untuk minum sambil berdiri. Qatadah berkata, “Kemudian kami bertanya kepada Anas tentang makan. Ia menjawab bahwa itu lebih buruk.”
Hadits ini dirwayatkan 14 abad yang lalu. Dimana belum ada alat kedokteran yang mendukung tentang larangan tersebut. Lalu kenapa rosulullah melarang kita untuk minum sambil berdiri?
Hal ini kelihatan sepele. Dan tanpa kita sadari, kitapun sering makan dan minum sambil berdiri. Namun secara ilmiah dan menurut ilmu kedokteran sekarang, hadits ini benar adanya. Jika ditinjau dari segi kesehatan, ternyata air yang masuk dengan cara minumnya sambil duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada ‘pos-pos’ penyaringan yang berada di ginjal. Nah. Jika kita minum berdiri. Air yang kita minum tanpa disaring lagi. Langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan disaluran ureter. Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter. Inilah yang bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.
Begitu juga makanan yang disantap pada saat berdiri, bisa berdampak pada refleksi saraf yang dilakukan oleh reaksi saraf kelana (saraf otak kesepuluh) yang banyak tersebar pada lapisan endotel yang mengelilingi usus.Refleksi ini apabila terjadi secara keras dan tiba-tiba, bisa menyebabkan tidak berfungsinya saraf (vagal inhibition) yang parah, untuk menghantarkan detak mematikan bagi jantung, sehingga menyebabkan pingsan atau mati mendadak. Dan jika dilakukan secara terus-menerus terbilang membahayakan dinding usus dan memungkinkan terjadinya luka pada lambung.
Nah loh…., jika sudah tahu demikian, apakah kita mau masih mau makan dan minum sambil berdiri?


Read More

03 December 2011

Tips Merawat Anak Menurut Islam

Pertama : Memberikan Nama Yang Baik
Rosulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits  shahih :
أحب الأسماء إلى الله عزّ وجلّ عبدالله وعبد الرّحمن
Nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abrurrahman.”
Kita dianjurkan member nama yang baik terhadap anak anda. Karena ketika anak anda mendengar panggilan secara berulang-ulang terhadap dirinya dengan nama-nama tersebut diatas , maka sianak pun akan terus menerus teringat adanya pertalian antara dia dan Allah yang memuliakan kedudukannya sebagai salah seorang hambanya.

Kedua : Memberikan Hak Asi Sebagaimana Mestinya
Seorang anak hendaklah disusui oleh ibunya, seperti yang dikehendaki oleh islam. Banyak sekali masyarakat disekitar kita yang tiak memperhatikan kewajiban menyusui ini . salah satunya dengan cara menterahkan anaknya kepada orang lain untu disusuinya, padahal ibunya mampu untuk menyusuinya. Akibatnya anakpun tidak mempunyai pertalian batih dengan ibunyadan tumbuhlah ia dengan rasa cinta, ikatan hati yang terputus dengan ibunya.
Allah SWT berfirman yang artinya :
“Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna” (al-baqarah :233)

Ketiga : Memberikan Keteladanan
Orang tua seharusnya menjadi contoh yang baik bagi putra putrinya, karena anak-anak itu selamanya akan mengikuti bapaknya, dan anak permpuan menguikuti ibunya. Apa yang kita perintahkan kepada anak-anak kita, hendaklah kita pun melaksanakannya.
Allah SWT berfirman :

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?

Keempat: Menyuruh Anak Anak Kita Sholat
Orang tua harusnya menyuruh anak-anaknya shalat saat usia mereka mencapai tujuh tahun, dan memukul mereka jika meninggalkannya pada usia sepuluh tahun, sekedar untuk memberinya nasehat dan peringatan demi kebaikannya, serta mulai memisahkannya tempat tidur diantara mereka.

Kelima: Mengajari Mereka Ilmu Yang Bermanfaat
Islam tidak megenal kebodohan dan kejorokan. Karena itu membina sebuah generasi adalah kewajiban yang sangat agung dalam islam.
Adapun orang yang melarang anaknya menuntut ilmu dengan alas an sulit dan menganggap jalannya terlalu berliku dan melelahkan , maka ia adalah orang yang buruk kemauannya dan tidak memiliki kebijaksanaan dalam hatinya.
Ajarilah anak anda dengan ilmu yang berfaedah. Karena sesungguhnya tidak setiap ilmu itu berfaedah. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT membagi ilmu ke dalam dua bagian:
Ilmu yang berfaedah dan,
Ilmu yang membahayakan.
Ilmu yang membahayakan adalah seperti dalam firman Allah:

Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa Barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, Tiadalah baginya Keuntungan di akhirat, dan Amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.
 [79] Berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.

Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang melahirkan rasa takut didalam hati seseorang kepada Allah.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dapat mempengaruhi anak-anak kita utnuk mencintai masjid, mencintai Al-Qur’an dan mencintai ilmu.

Keenam: Menanamkan Aneka Keutamaan Dan Rasa Percaya Diri Melalui Pergaulan Yang Baik Bersama Mereka
Banyak orang tua yang keliru dalam memperhatikan aspek yang satu ini, dimana mereka mendidikanya dengan kekerasan dengan mencambuk dan dengan cara cara yang bengis. Akibatnya, tumbuhlah si anak dalam keadaan rendah kemauannya, kekuatannya dan rasa percaya dirinya.
Islam telah mengajarkan agar mendidik dengan cara lembut dan bijaksana, firman-Nya:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.”

Ketujuh: Menjauhkan Mereka Dari Berteman Dengan Orang Yang Buruk
Allah berfirman tentang petemanan yang buruk:

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (az-zukhruf: 67)

Maka setiap kekasih, setiap sahabat dan setiap pertalian akan terputus, akan musnah, kecuali pertalian diantara orang – orang yang semata mata menginginkan ridho Allah dan kampong akhirat.

Kedelapan: Mengisi Waktu Kosong Mereka
Allah Swt berfirman ,

“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?  Maka Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) 'Arsy yang mulia.” (al-mu’minun: 115-116)
Betapa banyak anak-anak yang mengeluhkan waktu kosong mereka….maka denarkanlah disaat ada liburan panjang, sebagian mereka mengatakan “saat ini aku berada dalam waktu senggang.” Padahal seorang tidak ada waktu kosong, senggang dan santai serta tidak menyia-nyiakan waktu.

Kesembilan: Mengapresiasi Kecenderungan Mereka
“Sesungguhnya, semua orang telah dimudahkan urusannya, sesuai dengan kapasitas penciptaan dirinya” (Ibnul-Qayyim rahimahumullah dalam kitabnya, Tuhfatul-Maudud fi Ahkamil-Maulud)
Maka seorang ayah tidak boleh memaksa anaknya ke dalam hal-hal tertentu yang tidak diinginkan dan tidak disujainya, jika memang anaknya sudah mampu berfikir bijaksana dan dapat mempertimbangkan akibat yang diperoleh dari pilihannya.








Read More

© 2011 Muro'i El-Barezy, AllRightsReserved.

Designed by ScreenWritersArena